SELF IMAGE

Ketika liburan ke Hong Kong, Norman Vincent Peale melihat sebuah studio tatto. Berbagai contoh tatto dipajang, dan ada satu yang mengejutkan, “Born to lose” (lahir untuk kalah).  Norman masuk dan bertanya, “Memangnya ada orang yang mau mentatto tubuhnya dengan kata-kata itu?” Menurut pemilik studio memang ada beberapa. Norman berkomentar, “Sulit dipercaya ada orang waras yang mau melakukannya.” Dijawab oleh pemilik studio, “Sebelum ada tatto di tubuh, ada tatto dalam pikiran.”

Setiap orang memiliki “tatto” dalam pikirannya tentang siapa dirinya, apakah ia “born to lose” (lahir untuk kalah) atau “born to win" (lahir untuk menang).  Pandangan terhadap diri inilah yang menentukan bagaimana ia menjalani hidup, hubungannya dengan orang lain, dan bagaimana ia memandang dunia ini, positif atau negatif.  Dari mana asal “self-image”?

APA YANG ORANG LAIN KATAKAN. Ada orangtua yang berkata, “Kamu tidak akan berhasil sampai kapan pun!” lalu ini menjadi gambar diri sang anak.

APA YANG ORANG LAIN LAKUKAN. Anak yang mengalami penganiayaan atau pelecehan seksual  memiliki gambar diri yang rusak. Orangtua yang pilih kasih secara tidak langsung berkata pada anak yang kurang dicintai, “Kamu tidak layak dicintai.”

APA YANG DUNIA KATAKAN, contohnya “Cantik itu kurus, tinggi, kulit cerah.” Atau “Sukses itu kaya, keren dan beken.” Kalau kita tidak seperti itu, kita pikir kita kurang berharga.

APA YANG TUHAN KATAKAN. Inilah tolok ukur yang benar, tidak peduli apa yang orang lain katakan. Kita diciptakan, dicintai dan hidup untuk membawa kemuliaan bagi-Nya. Seperti uang Rp. 100.000, walaupun jatuh ke selokan, kotor, dan kucel, nilainya tetap sama, dan tetap bisa digunakan untuk membeli barang. Setiap manusia berharga dari “sononya” (Finda Mahesa)

BAGAIMANA ORANG LAIN MEMANDANG ANDA ITU TIDAK PENTING. BAGAIMANA ANDA MEMANDANG DIRI ANDA, ITU YANG MENENTUKAN.


How others see you, is not important. How you see yourself means everything.