MENTAL PENGEMIS

Sabtu sore saya nonton reportase salah satu stasiun tv, mengenai kampung pengemis di Jakarta. Ternyata beberapa pengemis yang gentayangan di jalan adalah orang berada, bukan benar-benar pengemis miskin.

Prinsip 'lebih baik tangan di atas' tampaknya tidak berlaku bagi sebagian orang di negara ini.

Tanpa bermaksud mengagungkan bangsa lain: saat Jepang dilanda tsunami, pemerintah melarang menayangkan gambar korban-korban dan  menyerukan Ganbate! Coba lihat tayangan TV kita, apa isinya selain lagu sedih dan korban yang meratap.

Yang membuat manusia tidak mau bangkit adalah rasa ingin dikasihani, memelas diri, pasif, menunggu belas kasihan. Saat sifat ini masih melekat kuat, sulit untuk bisa membuka pikiran mencari solusi, padahal mereka mampu bangkit dalam keterpurukannya.
Banyak juga sih orang yang luar biasa di negeri ini tanpa harus meminta dikasihani. Lalu mengapa di negara ini banyak pengemis?

Mental Pengemis!
Mereka lebih suka dikasihani daripada memberi. Saat manusia memberi -dalam berbagai bentuk- dalam keterbatasannya, sebenarnya ia orang yang kaya. Memberi kepada orang yang tak dapat membalas pemberian kita, itu baru namanya mental kaya! Tak harapkan pamrih, karena suatu saat Tuhan akan membalasnya, entah kapan, dimana, oleh siapa, berapa banyak, itu hak prerogatif Tuhan. Tugas kita adalah memberi, tangan di atas, bukan di bawah!

Kita memiliki bibit pemenang, sadari itu! Jangan kalah dengan situasi. Mental pemenang harus dibangkitkan, karena bangsa ini sudah lama terpuruk. Jangan menambah keterpurukkan dengan mental pengemis yang selalu mau dikasihani.

Hanya kita yang mampu mengubah nasib bangsa ini agar bisa sejajar dengan negara tetangga, bahkan skala internasional.

Mampukah bangsa ini bangkit?
Pasti mampu!
Ayo bangkitkan mental pemenang, bukan pengemis! Karena kita bukan pengemis